Untuk belajar ilmu perlu iman

Ketika kuliah matek (matematika teknik/engineering mathematics) saat mulai pembahasan SPD (Sistem Persamaan Diferensial) saya bertanya untuk konfirmasi dg mahasiswa: “Apakah ada diantara anda yang tidak meyakini (mengimani) √(-1), yaitu bilangan khayal/imaginer?. Saya bertanya ini karena nilai akar dari suatu bilangan negatif itu tidak terdefinisi, tapi ternyata ada bilangan khayal √(-1)”. Disebut bil. khayal/imaginer karena memang sebetulnya tidak ada, hanya khayalan.” Semua mhs tidak ada yang menjawab, bungkam seribu bahasa. Saya berkata lagi: “Sekali lagi, apakah ada yang tidak meyakini (mengimani) bilangan khayal tsb?” “JIka ada saya persilahkan untuk tidak mengikuti kuliah ini, karena kita akan banyak menggunakan bilangan khayal tsb untuk menyelesaikan berbagai problema persamaan diferensial untuk bidang teknik”. Ternyata masih bungkam juga mhsnya. “OK berarti semua anda yakin dan beriman kpd bilangan khayal tsb; syukurlah jadi saya bisa lanjutkan pembahasan kuliah ini”. Pelajaran dari dialog di atas adalah bahwa untuk siap belajar dan memahami tentang ilmu matematika yang hanya merupakan ilmu dunia (kauniah) saja, kita perlu ada keyakinan/iman dahulu thd beberapa hal. Apalagi untuk belajar dan memahami ilmu qauliah (ilmu holistik religi). Jadi keyakinan/keimanan adalah landasan dalam belajar suatu ilmu dan menerapkan suatu ilmu. Dan iman itu tidak harus ilmiah tapi merupakan persyaratan. Meyakini adanya √(-1) (bil khayal) kan tidak ilmiah juga. Tapi merupakan syarat untuk menekuni dan memahami dan menerapkan ilmu matematika untuk dunia nyata. Di zaman Rasulullah s.a.w. semua sahabat sudah memiliki iman yang kuat untuk hal-hal yang wajib (rukun) diimani, maka ketika mereka mendengar dan membaca al-Quran dan kandungannya mereka mudah dan segera mengimaninya, tidak perlu mencari-cari alasan atau bukti dahulu. Itulah sebabnya mereka sangat mudah menekuni dan menyerap ilmu agama dan yang lain-lain. Ingat iman, ilmu dan amal. Bagaimana mau dpt ilmu jika tanpa iman terlebih dahulu; bgmn dapat beramal jika tidak ada ilmunya dan imannya?

Leave a Reply