Ilmu Sistem Mendukung Pencarian Kebenaran

Sistem adalah interaksi sinergis antar komponen fungsional yg dirancang & dibangun untuk mencapai tujuan tertentu. Maka sistem tidak mungkin terjadi secara kebetulan, dengan sendirinya, atau terjadi dg tiba-tiba. Sistem pasti terjadi melalui proses desain yg memilki kaedah, tahapan dan tujuan yang jelas. Alam semesta dg segala isinya termasuk ekosistem demikian juga peredaran planet dan aneka makhluk termasuk manusia adalah sistem; jika bukan pasti tidak ada keteraturan yg kita bisa amati, pelajari dan manfaatkan. Sementara dari keteraturan alam ini banyak ilmu yg telah dikembangkan dan diaplikasikan dalam kehidupan. Jadi pasti ada yang merancang dan ada yang menciptakan. Kalau semua obyek dan fenomena yang ada di bumi ini dipandang sebagai proses alamiah yg terjadi dengan sendirinya itu adalah inkonsistensi berfikir ilmiah dalam kaedah ilmu sistem (system science & theory). Tanaman-tanaman atau hewan tertenu tidak akan jadi obat utk suatu penyakit tertentu sebelum diramu dan dirancang dg kaedah, tahapan dan tujuan yg jelas. Tidak mungkin obat jadi dengan sendirinya. Ini hanya tinggal keketerbukaan hati menerima bahwa Allah (Pencipta Alam Semesta ) itu memang terbukti ada.

Menuai Ketakjujuran

Seorang guru besar sedang menguji mahasiswanya secara lisan. Si mahasiswa menjawab pertanyaan dg panjang-lebar. Mendengar jawaban si mahasiswa, si guru besar menyuruh mahasiswa keluar ruangan dengan tambahan kata: “Don’t make a story to me“. Ucapan si guru besar itu jika dipahami dengan lapang & hati terbuka, luar biasa hikmahnya. Kurang lebih hikmahnya adalah: “Jangan pura-pura tahu atau mencari-cari pembenaran dengan cerita kesana kemari tapi makin jauh panggang dari api; akan lebih baik jika tidak tahu ya jujur saja katakan belum tahu”. Perintah keluar ruangan itu dimaksudkan agar si mahasiswa introspeksi diri dan berfikir lebih seksama, daripada di ruangan ujian tapi masih saja bertahan dg kesalahannya. Ingatlah bahwa kehormatan orang yg tidak tahu adalah diam atau jujur menjawab tidak tahu dan mencari tahu shg mendapat jawaban yg benar. Keburukan & kesombongan orang yg tidak tahu adalah pura-pura tahu atau berputar putar agar dipandang tahu, padahal tidak tahu.

Ilmuwan dan akhlak

Ketika akhlak seorang ilmuwan semakin berbanding terbalik dengan tingkat keilmuannya maka ia telah berjalan menuju kondisi “mantan ilmuwan”, akibat ingkar ilmu. Ketika tanda/bukti kebesaran Allah semakin terkuak dari keilmuan seseorang maka orang tsb semestinya makin tahu dan makin gemar beribadah kpd-NYA dan semakin takut untuk tidak taat kpd-NYA. Jika terjadi sebaliknya berarti orang tsb sedang menuju ke status “mantan ilmuwan” akibat ingkar ilmu. Dakam teori himpunan klasik tegasnya orang tsb masuk dalam anggota “himpunan orang yg tak berilmu” atau dalam pernyataan komplemental (negasional) dinyatakan sebagai bukan anggota “himpunan orang yg berilmu”. Namun dalam teori himpunan fuzzy orang tsb bisa dikatakan sebagai anggota himpunan orang yg berilmu dg derajat keanggotaan yg sangat kecil mendekati nol, akibat buruknya akhlak. Dalam istilah syariah agama orang tsb disebut sebagi ulama suu’ (ilmuwan yg buruk). Allah berfirman: “Apakah sama orang yg buta (tak berilmu) dengan orang yg melihat (berilmu)”.

Menempatkan Diri Sebagai Hamba ALlah

Pembagian A/B jika nilai B bertambah besar maka semakin kecil hasil baginya, sebaliknya jika nilai B semakin kecil maka semakin besar hasil baginya. Dalam teori Matematika pembagian dg bilangan 0 (nol) itu tak terdifinisi, tapi kalau A/B dimana B sangat mendekati 0 maka hasil A/B = tak hingga (infinite). Perbandingan Allah (Pencipta alam semesta dan seisinya) dengan manusia itu sangat tak hingga. Hamba yang bisa mempatkan dirinya sebagai hamba yg tak memiliki apa-apa (mendekati nol) dihadapan Allah maka ia akan merasakan kebesaran (ketakhinggaan) Allah dalam segala hal sehingga ia akan sangat butuh dan takut serta tergantung kepada Allah. Sesuai firman-NYA: “Allahu ashshomad = Allah tempat semua makhluk bergantung”. Sebaliknya hamba yg sombong (merasa besar) dihadapan Allah, merasa cukup memiliki segalanya maka perbandingan Allah terhadap dirinya menjadi kecil dan akhir ia merasa tak butuh kpd Allah dan bahkan ingkar kpd-NYA. Allah berfirman: ” Yaa ayyuhannaasu antumu alfuqaraa’u ilallaah, wallaahu huwal ghaniyyul hamid = Wahai manusia kamu harus merasa fakir (butuh) kpd Allah, dan Allah itu adalah Yang Maha Kaya dan Maha Terpuji“. Intinya pelajaran matematika yg sederhana tsb bisa dijadikan bahan kontemplasi bagi kita dalam menempatkan diri kita kpd Allah SWT.

Analogi Penangkal Petir

Salah satu prinsip kerja penangkal petir adalah menangkap aliran listrik arus tinggi malalui tiang besi (logam) penghantar yang dipasang menjulang ke atas dan terhubung ke basis (ground) tanah berarir yang resistensi (tahanan) listriknya mendekati 0 (nol) ohm, biasanya dibawah 1 ohm. Karena resistensinya kecil sekali berarti aliran listrik dari petir lebih suka menuju ke ground batang penghantar petir tsb daripada ke komponen lain (atap rumah, radio, TV,orang, atau peralatan yang lain) yang resistensinya masih jauh lebih besar dari nol. Jika basis (ground) penangkal petir itu kita analogikan dg hati (kalbu) maka kalbu yang resistensinya (penyakitnya) mendekati nol (nihil) akan lebih lapang dan tenang menerima sambaran musibah/cobaan dunia (analogi dg petir/kilat), namun jika hatinya banyak penyakit dan cinta dunia (resistensinya tinggi) maka sambaran musibah dunia akan membuat orang tsb cepat/rentan putus asa atau hancur hati. Maka Allah SWT memerintahkan kita banyak membersihkan hati dengan banyak dzikrullah (mengingat Allah) yg sebanyak-banyaknya dalam berbagai kondisi.

Penentu derajat ilmuwan

Derajat ilmuwan bukan ditentukan oleh banyaknya ilmu yang dimiliki, tetapi ditentukan juga oleh banyaknya amal perbuatan yg dilaksanakan mengikuti kebenaran ilmu yg dimiliknya; ditentukan oleh kepeduliannya dalam menggali, mengembangkan dan membagikan ilmu untuk kemanfaatan orang banyak; ditentukan oleh kegigihannyaa dalam menjaga gawang kebenaran keilmuan yg dimilikinya, serta ditentukan oleh kesahajaannya dalam ilmu dan rasa takut & cintanya kpd Allah SWT sebagai sumber ilmu yang hakiki.

Jangan Menukar Kemuliaan Dengan Kehinaan

Manusia ini diciptakan dg tujuan yg jelas & predikat yg mulia yaitu khalifah bumi (vicegerent of earth) yg didukung dg sarana, ilmu & tuntunan yg sangat memadai yang tidak dimiliki oleh makhluk lain (malaikat, jin, syetan, hewan, tumbuhan, planet, air, matahari, bulan, tanah, batu, besi, oksigen). Bahkan semua makhluk lain itu diciptakan semuanya untuk manusia. Dengan kemuliaan, ilmu & sarana yg sangat memadai tsb tidak sepatutnya manusia justru menjadi spekulator, perusak bumi & seisinya serta pengkufur nikmat tertinggi yg kemudian menjatuhkan dirinya ke status yg sehina-hinanya (tsumma rodad’naahu asfala saafiliina) disisi Allah SWT. Patut diingat bahwa tidak ada alasan pembenaran & peringanan terhadap kehinaannya tsb dihadapan (dipersidangan) Allah SWT, karena sudah jelas pilihan yg hak (lurus) serta pilihan yg bathil (bengkok).

Bukan atas dasar suka tak suka

Review pada pelajaran matematika diskrit & aljabar kalimat: “konklusi dari suatu operasi logik tidak dinilai dg dasar suka atau tidak sukanya kita terhadap konklusi tsb, namun divalidasi dari keabsahan kaidah penarikan kesimpulannya, sah atau tidak. Jika kaidah penarikan kesimpulannya sah, maka konklusi diterima suka atau tak suka”.

Demikian juga rezeki yg kita terima itu bukan hanya sesuatu yang kita suka saja, tapi juga sesuatu yang kita tidak menyukainya. Hakikinya rezeki itu adalah sesuatu yang datang dari-NYA dg izin dan kehendak-NYA yang dapat meningkatkan derajat kita di mata Allah SWT dan mendatangkan ridho-NYA. Allah berfirman: “Boleh jadi apa yang kamu sukai tidak baik menurut-NYA dan boleh jadi apa saja yang kamu benci itu baik menurut-NYA”. Sungguh Allah Maha Mengetahui segala sesuatu dan segala rahasia sedangkan manusia tidak mengetahui segala sesuatu.

Yang Menjauhkan dari Kemerdekaan

Semakin cinta dunia, haus jabatan, & semakin takut pada manusia akan semakin jauh dari merdeka & kemerdekaan. Semakin menjauhi ilmu dan ilmuwan (ulama) & semakin cinta kemaksiatan akan semakin jauh dari merdeka & kemerdekaan. Semakin menjauhi & melawan tuntunan-NYA akan semakin jauh dari merdeka & kemerdekaan. Kebahagian yg mereka banggakan dg dunianya sejatinya adalah kemiskinan & keterkekangan yangg melilit mereka walau mereka tak menyadarinya. Perlu kaji diri dan kolektif apakah kita mendekati atau menjauhi kemerdekaan.

Organisasi Dunia – TIK untuk Pertanian

Yang ingin mencoba berbagai produk softawre untuk aplikasi pertanian: Klik disini . Sedangkan deklarasi organisasi dunia yang sangat antusias untuk mengintegrasikan aktivitas pertanian dengan Teknologi Komunikasi dan Informasi (TIK)dapat dibaca di link berikut.Statement_Club of Ossiach